Romantisme Sang Purnama

purnamaSUNGGUH purnama itu menyembulkan pesona dan kelembutan yang menembus hingga ke dalam kalbu. Harus aku akui saat memandang purnama itu, hati ku mendesirkan kesejukan dan decak kagum ku terucap berulang kali…subahallah indah nian cahaya purnama ketika awan hitam yang menutupinya tersibak.
Ya Latif, sungguh sempurna ciptaanMu itu. Jika ciptaanMu saja mampu memberikan kelembutan, sungguh Enggkau adalah Mahanya.

Keindahan purnama itu aku saksikan di tepi pantai berpasir putih, dan  hanya sekitar dua derajat di atas perbukitan. Awalnya aku hanya melihat sembulan cahaya di balik gumpala awan yang pekat di atas perbukitan. Di langit bagian barat aku melihat banyak bintang gemintang bertaburan. Apakah gerangan di sana? tanyaku yang malam itu tengah asyik bermain di tepi pantai bersama teman-teman.

Tak lama, awan hitam tersibak dan purnama yang begitu sempurna tersembul mempertontonkan keanggunannya dengan cahaya terang tak menyilaukan mata.
Aku berpekik: “Purnama penuh…purnama penuh, subhanallah indah sekali. Wah lama tak menyaksikan purnama penuh di alam terbuka, di sebuah pulaubernama Kiluan,  di tepi pantai lagi.”
Teman-teman ku hanya menoleh dan meneruskan kegiatan mereka membakar ikan hasil tangkapan pancing kami sore tadi.
Subhanallah, sungguh indahnya…
Aku langsung menyambar kamera milik temanku yang tergeletak, lalu bersimpuh di pasir putih dengan beralasan sebilah bambu.

Rasanya purnama penuh telah menghipnosis ku. Bagaimana tidak, cahayanya jatuh di permukaan air laut yang sedang pasang tapi tenang malam itu. Beberapa kali kujepretkan kamera ke arah purnama. Dasar fotografer amatiran, beberapa hasilnya kurang memuaskan. Pencahayaan kamera yang kurang (non blitz) plus tanpa tripod, mengharuskan aku berdiam menahan napas beberapa waktu sampai lensa kamera terjerap. Huh…tidak mudah ternyata untuk mengabadikan keindahan ciptaan Tuhan ini.

Lama dan lekat-lekat aku pandangi terus purnama itu. Rasanya seperti terpikat oleh romantisme yang dipancarkan purnama. Bisa jadi juga karena aku melihatnya di alam terbuka yang mendukung makin indahnya menikmati sang purnama, meski still alone. If God just beautiful creatures, then You really beautiful God. And i’m sure, someday, I no longer enjoy the romance of this full moon alone. ***

Teluk Kiluan, April 2010

Explore posts in the same categories: Traveling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: