Pemulung Cilik di Depan Sekolah Mewah

SIANG menjelang sore, seperti biasa, aku mulai mobilitas menuju ke rumah kedua ku, kantor. Sebetulnya bisa dibilang rumah pertama, karena aku lebih banyak menghabiskan waktu ku di kantor. Dan seperti biasa, aku melaluinya dengan kendaraan umum, bus dan angkutan kota (angkot).
Aku menikmati perjalanan sore di mana sang surya masih dengan gagahnya memancaekan fotosfer yang mampu membuat kulit seperti disengat jika berlama-lama di bawahnya. Tak ayal, udara gerah itu mampu menyembulkan aroma tubuh yang weleh-weleh…menggoda hidung untuk sekadar menguceknya atau menutupnya…
Ya, kebetulan di dalam angkot yang aku tumpangi cukup banyak penumpang berseragam sekolah. Mungkin karena aktivitasnya dari pagi dan berada di sela-sela terik matahari, aroma yang tersemul pun jadi nano-nano…agak pusing sih, tapi untungnya kerudung yang aku kenakan sudah aku semprot pewangi pakaian sehingga masih mengimbangi bau dari luar.
Bukan masalah bau badan yang akan aku ceritakan, tetapi saat angkot melintas perlahan di depan sekolah bertaraf internasional, ada pemandangan yang sungguh mengusik pikiran. Ya, di depan sekolah mahal tersebut, ada seorang anak yang tengah mengais plastik bekas air mineral dari tumpukan karung besar yang diletakan di pinggir trotoar tersebut. Sesaat aku berpikir, “wah ironi sekali ya.”
Karena penasaran, akupun menghentikan angkot yang telah melaju sekitar 150-an meter.
Aku berjalan menyusuri trotoar untuk menemui sang anak tadi. Tepat di depan sang anak tadi, aku tetap jalan sekitar 50-an meter untuk menemui tukang es buah. Dua bukung es buah aku pesan, dengan catatan satu tidak pakai es. Jujur saja aku tak terlalu kuat untuk menyedak es, apalagi di siang panas.
Aku kembali berjalan balik ke arah anak tadi, saat di depan anak anak tadi aku menyapanya: “Lagi ngapain dek,” tanyaku.
Dengan agak ragu, sambil terus memisahkan plastik air mineral, anak tadi menyahut: “Ini, misahin platik.”
Aku tersenyum. “Untuk apa plastik itu,” tanyaku. “Untuk dijual,” tukasnya. “Dimana?” desak ku dengan suara lembut. “Tau, bapak yang jual,” ujarnya mulai singut.
Melihat kondisi yang kurang hangat, aku langsung mengeluarkan jurus menawarkan es. “Saya ada es buah, mau nggak? Nih ada dua,” kata ku sambil menyodorkan plastik es ke si anak tadi. Ia sempat menggelang, tapi aku mendesaknya. “Nggak apa-apa, tadi beli dua kok. Nama kamu siapa,” tanya ku.
“Usep,” katanya sambil mengambil bungkusan es dari tanganku. “Diminum, pas lagi panas-panas gini kan jadi seger,” sahut ku.
Si usep yang mengenakan kaus biru bercelana pedek hitam ini langsung menyeruputnya. Sruuut…sruuut…sruuut…. “Usiamu berapa sep, nggak sekolah,” kejarku.
ternyata Usep baru 11 tahun dan duduk di kelas 4 SD. Ia tinggak di kawasan Gunter (gunung Terang).
“Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti,” kilahku. Usep hanya menggelang. “Emangnya mbak ini mau kemana,” Usep malah balik bertanya.
Dengan sedikit berbohong aku bilang, “Lagi nunggu teman, katanya janjiannya di sini sih, di depan sekolah bagus ini,” ucap ku.
:Mau sekolah disini,” tanyaku sambil menunjuk ke gedung sekolah yang tinggi dengan halaman parkir yang luas. Di halaman tersebut banyak kendaraan bagus terparkir, karena sebentar lagi bubaran sekolah.
Usep cuma menggelang. “Sekolahnya bagus, bapak nggak punya uang buat biaya sekolah. Makanya suruh bantu cari uang kalo masih mau sekolah. Saya masih mau sekolah biar bisa kerja di kantoran,” papar Usep.
Aku tercekat sebentar. Namun, tersadarkan saat ponsel saya berbunyi. Ada panggilan dari ‘markas besar’. “Mbak ditunggu meeting di kantor ya nanti jam…., kata usara di telepon tadi. “Ya..ya.., saya sedang di jalan,” jawabku.

Setelah menutup telepon, aku pamitan. “Usep teman saya tidak jadi janjian di sini, ya sudah saya jalan dulu ya, eh iya rumah kamu dimana tadi,” tanyaku. Usep menyebut nama kampung dan arah rumahnya. Aku mengangguk-angguk. “Sampe ketemu lagi sep,” kata ku sambil menyetop angkot warna biru telur asin.

Ah, sebetulnya masih banyak sekali obrolan yang akan aku tanyakan ke Usep, tapi waktuku terbatas. Mungkin lain waktu aku bisa kembali ngobrol dengan si Usep, bocah pemulung yang masih inggin sekolah.
Hmmm, ironi memang, di depan sekolah bertaraf ¬†internasonal yang SPP-nya bisa jutaan rupiah per bulan per anak didik–belum termasuk uang bangunan— ternyata ada pemulung kecil yang mengais rupiah dari memungut sampah plastik untuk tetap melanjutkan sekolahnya yang masih dibangku SD. ****SA

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: