Puri Brug Linn Seperti di Dalam Dongeng

Oleh-oleh perjalananku ke Jerman 2002 lalu, lumayan buat menambah daftar lokasi liburan buat pembaca, Thx…
JIKA berlibur ke Negara Bagian Nordhrein Westfalen, Republik Federal Jerman, jangan lupa meluangkan waktu untuk melihat perkampungan tua di Krefeld yang dijadikan museum oleh pemerintah Jerman.
Brug Linn merupakan kawasan pemukiman di daerah Krefeld, sekitar tiga kilometer dari pelabuhan Sungai Rhein. Perkampungan tua yang jumlah rumahnya sejak dulu hingga kini tetap 114 rumah itu dijadikan museum oleh pemerintah Jerman. Uniknya, perawatan rumah atau bangunan tersebut diserahkan ke masyarakat yang menempatinya.
Awalnya perkampungan ini didirikan bangsawan Klife pada tahun 1600-an. Dari hanya beberapa bangunan, terus berkembang menjadi 114 rumah dan jumlah tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini.
Menurut J.C. Heitmann, kepala Pengelola Museum Brug Linn, masyarakat diserahkan mengelola sendiri banunan atau rumah milik mereka yang mendapat perlindungan monumen dari pemerintah negera bagian.
Penentuan bangunan yang mendapat perlindungan itu, menurut Heitmann, sebelumnya dirapatkan dulu. Biasanya, masyarakat yang kebetulan bangunannya ditunjuk menjadi bangunan bersejarah yang mendapatkan perlindungan dari pemerintah itu tak keberatan, meski mereka tidak diperbolehkan merenovasi terhadap bangunan tersebut tanpa seizin dari pihak pengawasan monumen.
“Jika kondisi bangunan sudah teramat rapuh dan perlu direnovasi, maka harus diajukan usulan renovasi kemudian tim akan turun untuk melihat kondisi yang sebenarnya” ujar Heitmann.
Biasanya isin renovasi diberikan, tetapi dengan pengawasan dan tidak boleh mengubah bentuk aslinya.
Pemukiman atau bangunan yang mendapat pengawasan perlindungan monumen itu akan mendapat tanda tulisan Denkmal yang berarti perawatan masyarakat.
Uniknya, pintu bangunan di kawasan Brug Linn itu terlihat pendek, layaknya pemukinan di kawasan Asia. Dijelaskan Heitman, bahwa pada masa itu postur tubuh bangsa Jerman tidaklah setinggi saat ini. “Mereka dulu tubuhnya pendek-pendek, seperti orang Asia. Itu terlihat hampir disemua bangunan yang ada di kawasan ini,” paparnya.
Untuk perawatan bangunan yang dilindungi itu–lebih banyak pemukiman keluarga, seharusnya mendapat pembiayaan dari pemerintah. Namun, karena keterbatasan dana yang ada di pemerintah Komunal–setara dengan kabupaten/kota yang memiliki konstitusi sendiri– dana tersebut ditiadakan.
Hanya satu puri yaitu Puri Brug Linn yang mendapat bantuan dana dari Yayasan Eoroga–perkumpulan perawatan bangunan bersejarah di Eropa–senilai 18 juta Euro. Dana itu untuk renovasi puri yang diperkirakan memakan waktu tiga tahun.
Puri Brug Linn seluas 10 haktare itu dibangun tahun 1650 oleh seorang bangsawan Klife. Awalnya hanya dua bangunan yang dikelilingi parit–sebagai pertahanan terhadap musuh kala itu–, kemudian terus diperbesar sehingga dibangun menara setinggi 50 meter. Menara ini dijadikan tempat pengintaian musuh yang akan menyerang kawasan tersebut.
Tahun 1702 puri tersebut terbakar, sehingga keluarga bangsawan Klife terpaksa mengungsi dan membangun pemukiman di sebelah puri. Puri itu sendiri mulai direnovasi, tetapi tidak sampai rampung hingga keturunan bangsawan Klife tak lagi bersisa di kawasan tersebut.
Meski sudah termasuk dalam bangunan perlindungan pemerintah, menurut Heitmann, karena tidak ada dana, puri tersebut tak juga direnovasi. Setelah mendapat bantuan dana dari Yayasan Eoroga, renovasi sudah dimulai sejak awal tahun lalu.
Dari kejauhan, puri yang terbuat dari bahan batu bata itu terlihat seperti cerita di dalam dongeng sewaktu kita kecil. Di sekeliling Puri Brug Linn terhampar rerumputan hijau dan sungai yang mengalir jernih. Terlihat juga aneka bebek bermain di sungai tersebut.
Heitmann membawa rombongan ke dalam puri dengan melintasi jembatan kayu tua yang terlihat masih kokoh. Melewati pintu gerbang, jantung sedikit berdegub karena di atas pintu gerbang ada palang berhias tombak yang siap menancap ke tubuh.
Menurut Heitmann, yang keluarganya merupakan penduduk Krefeld, palang bertombak itu sengaja dipasang untuk menghalau musuh yang tiba-tiba menyerang ke dalam puri.
Meski puri tengah direnovasi, karena rombongan kami berasal dari jauh (baca: Indonesia), Heitmann mempersilahkan rombongan naik ke atas menara setinggi 50 meter lebih. Tangga menuju ke atas menara dibuat melinggar–diameter menara tak lebih dari 4 meter– dan anak tangganya hanya selebar 60 cm. Cukup sempit buat ukuran perawakan bangsa Jerman.
Begitu sampai di atas menara, terlihat pemandangan kota Brug Linn dan Krefled. Kawasan industri terlihat dari kejauhan yang ditandai dengan cerobong-cerobong asap.
Sementara di dasar menara tersebut ada semacam lubang sumur cukup dalam dan ditralis. Sumur tersebut tak lain penjara bagi musuh yang tertangkap.
Puri tersebut juga dikelilingi benteng pengintai dan terdapat tempat meriam di beberapa sudutnya.
Bagaimana dengan pernak-pernik puri tersebut. Menurut Heitman, karena sedang tahap renovasi, barang-barang peninggalan puri, baik berupa patung maupun baju baja disimpan dan dirawat di salah satu rumah penduduk. “Kelak, setelah puri selesai direnovasi, akan kami kembalikan ke posisi semula,” jelas Heitmann.
Sementara itu, di bangunan yang berada di sebelah Puri Brug Linn, terdapat beberapa batu nisan mendiang keluarga banggsawan Klife. Bentuk batu nisan tersebut beraneka, sesuai perkembangan seni saat itu. Ada yang berbentuk pintu gaya Itali, ada juga yang menyerupai lumpang maupun prisai.
Bentuk tersebut amat dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan saat itu. Nisan berbentuk lumpang berukir merupakan yang tertua yaitu sekitar abad 17-an, sementara nisan yang paling pesar berbentuk pintu bergaya Itali adalah milik seorang putri yang meninggal diusia muda.***Sri Agustina

Explore posts in the same categories: Traveling

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: