Munster, Kota Moderen Sentuhan Klasik

BERJALAN di Kota Munster, salah satu kota di Negara Bagian Nordrhein Westfalen (NRW) Republik Jerman nyaris tidak terasa lelah, meski sudah berkilo-kilo meter berjalan. Sebab, mata selalu memandang bangunan kuno berarsitektur seni yang indah sehingga membuat kaki ingin terus berjalan mengelilingi kota tersebut. Jika terasa letih, bangku di taman-taman kota yang asri telah menanti.
Sebagian besar bangunan di Kota Munster berbentuk gothe dan merupakan peninggalan lama, sekitar abad 14-an. Beberapa bangunan kuno itu kemudian mengalami renovasi dengan tetap mempertahankan bentuk lama dan hingga kini berusia 60 tahunan.
Kelebihan kota ini tidak pernah diduduki penjajah selama masa perang dunia ke-II lalu. Meski demikian, Kota Munster mendapat imbas serangan udara pada PD II sehingga beberapa bangunan hancur, termasuk Gereja Katedral–merupakan Gereja Katedral terbesar kedua di Negara Bagian NRW setelah di Kota Essen.
Menurut Ferau Sinner, pemandu wisata di Kota Munster, berdasarkan sejarah, kota ini berasal dari kata Monsanta yang berarti biara. Kota Munster awalnya didirikan pada abad ke-7 oleh kaisar Luth Gerus dengan kentalnya pengaruh gereja. Tidak heran jika bentuk bangunan di sana rata-rata Gothe (kerucut menyerupai gereja).
Untuk menghalau masuknya para penjajah pada masa itu, dibuatlah parit di sekeliling Kota Munster seluas 4,5 km. Saat ini partit-parit tersebut menjadi jalan dan taman.
Pada tahun 1225 dibangun Gereja Katedral yang cukup besar dangan langit-langit tinggi. Pembangunan gereja tersebut selesai pada tahun 1264. Ornamen yang ada di dinding gereja dipahat secara manual.
Namun, pada Perang Dunia II, pada tahun 1945, serangan udara sekutu menyebabkan gereja tersebut hancur sebagian, termasuk beberapa bangunan peninggalan bersejarah lainnya.
“Berdasarkan kesepakatan di tingkat komunal (setara kabupaten/kota yang memiliki UUD sendiri, ®MDBO¯red®MDNM¯), beberapa bagunan kuno termasuk gereja direnovasi tanpa mengubah bentuk aslinya. Jadi bangunan di sini rata-rata berusia 60 tahunan, termasuk Gereja Katedral yang tengah direnovasi,” papar Farau sambil mengajak berkeliling Munster.
Jam Astronomi
Di dalam Gereja Katedral itulah terdapat jam astronomi yang dibuat pada tahun 1540. Jam berukuran 2 x 2 meter itu selain mementukan tanggal, bulan, dan tahun, juga menunjukan posisi bulan, matahari dan peredaran planet.
Jam tersebut digerakan secara mekanik dan tiap lima belas menit, dewa pencabut nyawa yang digambarkan dengan patung berukuran 30 cm berbentuk tengkorak bergerak membunyikan lonceng. “Lonceng itu memperingatkan tanda bahwa 15 menit nyawa setiap umat bisa hilang,” ujar Farau.
Sementara itu, setiap pergantian jam akan terdengar lonceng sesuai waktu yang ditunjukan. Bunyi lonceng menggema hingga terdengar beberapa radius ratusan meter di Munster.
Jam tersebut tersebut merupakan satu dari emat jam astronomi yang ada di NRW. Usia jam tersebut distel berusia 532 tahun. “Jika sudah 532 tahun, maka jam harus distel kembali. Jam astronomi ini menggunakan tenaga mekanik yang terkesan sederhana, tapi sebetulnya rumit juga,” kata Farau dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan Denis Matindas.
Sementara itu, di Gereja Katedral lainnya yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari gereja pertama, terdapat ornamen unik berupa tiga krangkeng yang digantung di atas menara gereja, tepat di atas jam. Kerangkeng itu menunjukan kekuatan dewan gereja terhadap pemberontak–aliran baru yang mendobrak ortodok gereja.
Para pemberontak itu dimaskan ke kerangkeng lalu di pajang di atas menara gereja. “Kerangkekng itu memberi pelajaran bagi mereka yang akan memberontak aturan gereja,” jelas Farau yang tinggan dan menuntut ilmu di Kota Munster tersebut.
Pertokoan
Kedua Gereja Katedral tersebut dikelilingi pertokoan, restoran, kafe, serta hotel. Balai Kota Munster juga berda di jantung Kota Munster dengan bangunan berbentuk Gothe.
Balai Kota ini terbuka bagi pengunjung atau wisatawan yang ingin mengetahui atau mengenal Kota Munster.
Pertokoan di Munster hampir seragam dengan pertokoan di kota lainnya yaitu mulai buka pukul 09.00 hingga 19.00 waktu setempat. Meski pengunjung ramai, warga Jerman amat disiplin mematuhi aturan tersebut. Pembeli selalu diberitahukan bahwa toko akan tutup, tidak memandang apakah saat itu pengunjung padat atau tidak.
Jangan heran atau sakit hati, jika sudah waktunya toko tutup, pembeli tak akan dilayani saat membayar di kasir. Sang juru kasir akan menunjuk kasir terakhir yang masih buka dan itu pun tak melewati batas waktu. Uniknya lagi, setiap Sabtu pertokoan hanya buka setengah hari dan pada hari Minggu tutup total, kecuali kafe dan bar minuman.
Pertokoan yang ada pun beragam mulai dari toko kecil hingga galeri dengan harga beraneka ragam. Galeri yang ternama dan hampir ada di setiap kota adalah Karstadt dan Galeria Kaufhof. Kedua galeria itu menawarkan aneka barang mulai dari perhiasan, pakaian, makanan dan minuman, serta peralatan elektronik maupun rumah tangga.
Jika kita berkunjung dan bertepatan dengan saat “Sale”, maka kita akan mendapatkan barang dengan potongan harga cukup tinggi hingga 50 persen. Sayangnya, sewaktu delegasi Indonesia–anggota parlemen, NGO dan media massa– berkunjung di kota tersebut, sale musim panas baru saja usai. “Waktu sale musim panas sudah berakhir, sayang sekali,” kata Farau.

Kota Sepeda
Selain kekayaan seni, Munster merupakan kota sepeda. Jumlah penduduk di Munster tercatat 2.800 jiwa dan rata-rata tiap orang memiliki dua sepeda, tercatat total sepeda di Munster ada 5.600-an.
Tidak heran jika di kota tersebut ada jalan khusus sepeda dengan lantai berwarna merah bata, sementara untuk pejalan kaki disedikan jalan lain berlantai batu warna hitam. Pejalan kaki yang tak mengindahkan jalan sepeda akan didenda atau dihalau pengguna sepeda.
Mengapa sepeda menjadi kendaraan favorit? Jawabannya, menurut Farau, karena Munster merupakan daerah dataran, kemudian lahan parkir terbatas di wilayah tersebut.
“Bukan pemandanggan aneh, jika Wali Kota Munster pun menggunakan sepeda dalam kesehariannya. Rata-rata warga di sini punya dua sepeda, satu untuk aneka kegiatan, sementara yang satu lagi untuk berbelanja,” papar Farau.
Kebetulan, saat rombongan sedang mengeliling Kota Musnter, sore itu ada balap sepeda yang merupakan event rutin hampir setiap bulan. Jalan-jalan di pertokoan langsung dibatasi pagar besi. Malam harinya digelar teater di lapangan depan Gereja Katedral yang dilanjutkan tur keliling kota Munster. Pagelaran teater yang melukiskan kehidupan masa kejayaan kasiar dulu.
Kembang api, kereta yang ditarik kendaraaan bermotor, menjadi tontonan menarik dan amat diminati pengunjung yang sebagian besar merupakan pendatang atau wisatawan.
Even-even kesenian juga kerap digelar di kota Munster. Misalanya pameran lukisan konterporer yang diselenggarakan beberapa pekan lalu. Sisa-sisa dari even tersebut masih tersisa di gerbang Kota Munster.SRI AGUSTINA

Explore posts in the same categories: Traveling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: