OWK, Ya Rekreasi, Ya Tambah Pengetahuan

safari malam melihat aummm....

BEREKREASI menikmati keindahan alam sambil mendapat pengetahuan tentang konservasi termasuk satwa dari sang ahli (pakar) sangatlah menyenangkan. Di satu sisi tubuh dan pikiran bisa relaksasi dan menyatu dengan alam, di sisi lain kita mendapat tambahan ilmu.

Hal inilah yang didapat para peserta Orientasi wartawan konservasi (Owaka) yang digelar Forum Komunikasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, tahun 2008 lalu.
Sambil menikmati udara sejuk cenderung ke dingin di bukit Cisarua yang bersebelahan dengan Gunung Gede Pangrango, para peserta Owaka menyatu ke alam dengan tidur di tenda yang telah disediakan panitia. Juga bercengkrama dengan satwa yang ada di sana.
Hari pertama, sambil menunggu peserta dari Bandung, Bogor, Jakarta, dan Lampung, peserta yang sudah lebih dulu datang, bisa menikmati arena permainan out bound yang ada di Rumah Dua, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua bogor. Bisa juga mencoba jalur tracking yang dibuat Foksi sepanjang 7 kiloan meter dengan menuruni lembah, mendaki bukit, melintasi sungai dan sesekali suara burung dan siamang terdengar.
Usai makan malam, baru diadakan pertemuan pengurus Foksi antara lain koordinator Foksi Tony Sumampau, Dr. drh. Ligaya Ita Tumbaleka, tim dokter hewan dari TSI drh. Retno, Endah Budi Utami, penangkar arawan asal Kalimantan Barat, Mingku, dengan seluruh anggota Owaka yang sebagian besar adalah jurnalis dari surat kabar harian, majalah, radio, TV, hingga para penangkar atau pemerhati satwa yang berjumlah sekitar 30-an orang plus panitia.
Kebetulan penulis tiba di lokasi menjelang tengah malam, maklum perjalanan dari Lampung ke Cisarua cukup panjang, terlebih lagi menggunakan angkutan umum yang lebih banyak ‘ngetem-nya.’
Bahasan dalam pertemuan tersebut tentang Owaka sendiri yakni memberikan bekal pengetahuan mengenai konservasi, terutama satwaliar kepada para peserta. Selain itu, mengupas Curik Bali (Jalak Bali) yang merupakan satwa langka di habitatnya, yakni Taman Nasional Bali Barat. Namun, populasi Curik Bali ini justru cukup banyak di tangan para penangkar.
Kelangkaan burung ini karena secara ekonomi nilai jual Curik Bali yang memiliki keindahan bulu putih serta mata birunya cukup mahal yakni mencapai Rp40-an juta per ekor. Akibatnya banyak orang yang memburunya di alam bebas, termasuk di habitatnya.
Namun, para penangkar burung yang tergabung dalam Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) bersama Departemen Kehutanan dan Yokohama Research Center sepakat mengembalikan populasi burung ini di habitatnya dari kepunahan dengan melepas 45 ekor Curik Bali hasil penangkaran pada awal Desember 2007 lalu.
Camilan jagung, kacang dan tales rebus serta wedang jahe, membuat suasana malam yang mulai menyeruak dingin itu menjadi hangat kembali. Tak lupa api unggun kecil dihidupkan untuk sekadar membuat aliran darah terasa lebih lancar.
Penulis beserta rombongan dari Majalah Femina dan Asean Sea serta pemerhati lingkungan yang baru tiba di lokasi pun segera mendapat sajian istimewa mi ala Bang Badil Kompas. Meskipun perut baru diisi sebelum naik ke Rumah Dua, rasanya tak sanggup menolak mi kedelai khas Bang Badil yang ternyata mampu mengoyangkan lidah.
Waktu telah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Rasanya penat juga setelah melakukan perjalanan panjang dari Bandar Lampung ke Cisarua, so waktunya istirahat nih. Benk-benk dan Akew dari FOG segera memberikan sleeping bag dan menunjuk tenda yang bisa diisi. Namun, penulis beserta beberapa teman memilih untuk tidur di balik mimbar Rumah Dua, dimana suara aliran sungai sangat jelas terdengar.
***
Pukul 05.30, Aan dari Gatra Bandung dan Defan dari Tempo Bogor dan Akew sudah membangunkan peserta untuk senam pagi dan tracking. Baru separuh tracking, peserta diminta kembali ke posko kembara buat sarapan pagi dan siap-siap mengikuti diskusi lanjutan Curik Bali di Rumah Dua.
Pukul 8.00, drh. Retno Sudarwati di dampingi Currator Endah Budi Utami memberikan paparan tentang habitat Curik Bali. Bahwa setiap hewan, termasuk Curik Bali, akan berkembang biak dengan pesat jika kesejahteraan mereka tercukupi, yakni meliputi bebas dari rasa tak nyaman, bebas dari haus dan lapar, bebas penyakit, bebas ekspresi tingkah alam.
Partisipasi para peserta Owaka yang baru terlihat dengan diskusi seputar Curik Bali dan satwa lainnya. Di sini pulalah terjawab bahwa pepatah “Sekejam-kejamnya harimau, ia tak memakan anaknya.” Kenyataannya, hampir setiap hewan akan berbuat sadis, termasuk terhadap anaknya jika nyawanya terancam. Harimau, beruang, dan hewan lainnya akan memangsa anaknya sendiri jika hal itu mengancam dirinya. Uh.. egois ya.
Rampung diskusi, pukul 11.00 truk zebra telah siap untuk mengantar kami ke rumah sakit satwa dan ke pengangkaran yang ada di TSI. Semua peserta sibuk mempersiapkan kamera, karena ini merupakn tur melihat satwa dari dekat.
Untuk ke rumah sakit satwa, kami melintasi kadang kuda poni, komunitas Kijang dan sejenisnya, serta kerabat otnta, Lama. Hewan yang satu ini kerap meludah seagai senjata jika kondisinya terancam.
Rupanya Lama sudah tak segan lagi dengan manusia, sehingga ia kerap mendatangi kendaraan yang melintas. “Awas! hewan ini suka meludah lo,” ucap salah seorang peserta. Ludahnya sih tidak berbisa, cuma siapa yang sudi diludahi si Lama.
Karena rombongannya cukup banyak, mak adibagi dua kelompok yakni yang ke rumah sakit hewan dan ke penangkaran satwa.
Jangan membayangkan rumah sakitnya seperti rumah sakit manusia, bagunanya tidaklah terlalu besar, tetapi ada beberapa ruang khusus dan laboratorium. Ada empat dokter hewan yang bertugas di sini diampingi para medis dan kepper.
Di ruang observasi, ada tiga anak orang utan yang msih berusia empat dan lima bulan. Yang dua sehat, dan satu lagi berada dalam inkubator dan diinfus karena terserang diare.
Orangutan ini dengan bayi manusia, manja dan inginnya berada dalam pelukan, bahkan mereka pun harus punya mainan berupa boneka. Jika bonekanya diambil, si anak orangutan ini akan menangis dan mengamuk layaknya anak kecil. Lucu sekali.
Menurut Sri, yang bertugas di Nursery Room, ketiga anak orangutan ini dibawa ke ruang observasi karena induknya tidak mau mengurus dan menyusuinya. “Biasanya ini merupakan anak pertama, sehingga induk tidak mau mengurusi anaknya. Jika dibiarkan dengan induknya, anak orangutan ini kemungkinan akan mati, sehingga dibawa ke ruang observasi,” papar Sri.
Di salah satu kandang, ada seekor harimau Benggala tergolek memprihatinkan dengan bulu-bulu yang rontok. Menurut drh. Retno, harimau ini menderita gangguan pankreas sehingga setiap makanan yang diasup tak bisa terserap sempurna dan ini menyebabkan bulunya rontok.
“Sudah dua bulan ini dirawat, dan berangsur sembuh. Badannya mulai berisi lagi, tinggal pemulihan bulunya saja yang agak lama,” terang Retno.
Ada juga macan tutul usia dua tahun yang mengalami iritasi di ekornya. Meskipun baru dua tahun, si tutul ini terlihat bongsor dan mau bersahabat dengan pengunjung serta bisa foto bersama, tentu saja di dampingi sang ‘kepper.’
Rumah sakit hewan ini sebetulnya tidak terbuka untuk umum, namun buat edukasi dan penelitian relatif terbuka. Kami merupakan yang beruntung diperbolehkan menengok rumah sakit satwa, karena tujuannya untuk edukasi.
Kami juga melihat ke penangkaran harimau, gajah dan Curik Bali. Sejumlah harimau sumatera berada di kandang isolasi. Mereka adalah harimau yang ditangkap dari hutan di sumatera karena banyak ‘mengusik’ warga.
Ada lagi seekor harimau betina usia 12 tahun yang kakinya cacat (buntung telapaknya, red) akibat terjerat di hutan Pekanbaru. Menurut Arsyad, sang ‘kepper,’ akibat kecacatannya itu harimau ini tidak memiliki pasangan. “Kalaupun di satukan dengan harimau yang lain, ia akan dikucilkan, bahkan boleh jadi akan diserang,” terangnya. Duh, kasihan sekali nasib harimau ini.
Tanpa terasa, waktu bergulir cepat. Setelah mendapat banyak ‘pencerahan’ soal satwa, kami pun kembali ke kemah Kembara untuk makan siang dilanjutkan isitrahat sejenak, lalu out bound dan aneka games. Ada yang main flying Fox, meniti tali, hingga meluncur di kolam yang airnya sedingin es. Kami bermain hingga sore.
Jelang makan malam, kami berbincang-bincang dengan Pak Tony dan Bang Badil tentang revisi daftar satwa langka. Berdasarken lokakarya selama dua hari tentang hal tersebut, ternyata diinformasikan bahwa elang Jawa dan Orangutan ternyata populasinya relatif aman, justru yang mengkhawatirkan adalah pesut Mahakam. Mamalia air ini bahkan hampir dilupakan, sementara populasinya makin menciut saja di habitanya.
Pukul 21.00, kami siap-siap untuk Safari Malam, yakni melihat kehidupan dan aktivitas satwa diwaktu malam. Karena malam minggu, ternyata banyak pengnjung yang antre untuk bersafari malam. Waktunya sekitar 45-60 menit dan ada pemandunya. Wah seru!!.
***

Minggu pagi dilanjutkan dengan diskusi tentang unggas; Curik Bali dan walet oleh pakar burung Dr. Masnoerdjito dari LIPI Bogor. Banyak pengetahun yang bisa didapat dari diskusi ini, termasuk perkembangan populasi Curik Bali yang menggembirakan, bahkan kini harga burung berbulu indah ini turun drastis dari Rp40 juta menjadi Rp5 juta/ekor.
Namun, masalah habitat Curik Bali di TNBB masih belum ‘aman’ karena terdapat kawasan hutan produksi di sekitar taman nasional tersebut yang memungkinkan orang untuk keluar-masuk kawasan. “Ini jelas akan mengganggu habitat Curik Bali. Solusinya ya, perlu ketegasan pemerintah,” ucap Masnoerdjito.
Diskusi ini berakhir jelang makan siang. Kami tidak langsung bubar, tetapi membahas tentang Owaka dan agenda Foksi lainnya, sebelum ditutup oleh Kang Defan. Pukul 13.00 para peserta pulang ke ‘habitat’ lainnya. Dan dari sekian banyak peserta, saya merupakan satu-satunya yang harus menyebrangi lautan dengan gelombang lumyan besar untuk pulang ke ‘habitat’ tercinta, Lampung.***sri agustina

Explore posts in the same categories: Traveling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: