rehat

Si Mbah Peyek

SETAHUN lalu, saat aku sedang duduk santai di serambi rumah. Tiba-tiba ada seorang wanita tua yang tubuhnya kurus sambil menggendong bakul dan membawa kresek besar datang menghampiri. Mungkin usianya sekitar 65-an tahun.
“Rempeyek, pisang goreng, misro nak,  iki eco. Kulo sing gawe dewe,” ucap si mbah penjual rempeyek.
Sebetulnya aku tak kepingin makan makanan tersebut, tetapi entah mengapa aku mengangguk saja. “Ini enak kok, rempeyek ke renyah,” kata si mbah berpromosi.
Aku memilih beberapa panganan yang ditawarkan termasuk rempeyeknya. Dan ternyata memang rasanya nyumi alias enak, baik pisang goreng maupun misro juga rempeyeknya renyah. Makin terasa enak karena harganya juga murah, bayangkan untuk gorengan cuma Rp300/buah sedang rempeyeknya Rp1.250/bungkus.
Sejak itu, tiap dua hari sekali si mbah ini datang menyambingi rumah untuk menawarkan jajanannya saja. Dan acap kali si mbah datang, aku pasti membelinya meskipun tak banyak atau saat itu aku tak berminat makan. Entah ada rasa yang membuat aku harus membelinya. Lama-kelamaan aku dan si mbah makin akrab, ia bercerita tentang diri dan keluarganya. Meskipun sudah renta, tetapi ia tetap ingin berkarya, selain untuk mengisi kegiatan, faktor ekonomi amat dominan menjadi pemicunya.
Anak-anaknya pada berkeluarga, sementara suaminya buruh bangunan yang tak tetap bekerjanya. “Menoi ku kulo dodolan. Iki kulo sing gawe dewe,” ujarnya suatu ketika.
***
Sudah hampir tiga bulan ini aku tak pernah lagi melihat si mbah. Mungkin karena aku berangkat ke kantor lebih awal, sehingga tak lagi berjumpa dengannya. Tetapi biasanya, tanpa aku pun orang rumah sudah menjadi langgann si mbah dan di meja makan terlihat gorengan atau rempeyeknya yang khas. Namun, hal itu juga tak terlihat.
Saat aku tanyakan dengan warga rumah tentang si mbah, aku mendengar jawaban yang agak merisaukan hati “Memang sudah lama enggak pernah datang menawarkan jajanan,” ucap orang rumah.
Ah, kemanakah gerangan si Mbah rempeyek ini? Apakah ia sakit, atau ada sesuatu? Hingga saat ini aku belum menemukan jawabannya. Dan aku selalu berdoa agar si Mbah selalu dalam keadaan sehat selalu. Amin.
n SRI AGUSTINA

Ahmadinejad

MINGGU malam yang lalu, saya menyaksikan sebuah topik wawancara hangat di salah satu saluran TV kabel antara presenter andal asal negeri Paman Sam dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Dengan penampilan sederhana hanya mengenakan hem (kemeja) lengan panjang plus wajah bersahaja yang terkesan tidak neko-neko®, Ahmadinejad mampu menjawab semua pertanyan presenter dengan gapah. Bahkan ‘tohok’ sang presenter malah berbalik ke arahnya.
Luarrr biasa! Saya langsung takjub dan angkat topi buat Ahmadinejad. Wawancara itu membuka mata kita bahwa selama ini image yang dibuat sang penguasa dunia (baca: AS) terhadap Iran dan negera-negara timur tengah lainnya, sama sekali jauh api dari panggang. Mereka punya kedaualtan sendiri, tapi Bush senang sekali menjadi ‘pengatur’ bagi mereka.
Setelah berhasil mengobok-obok Irak, rupanya negera tetangga yang satu inipun ingin dikoboknya pula dengan isu nuklir.

Sebelumnya, saya tak pernah kenal siap sih Ahmadinajed itu. Cuma tahu kalau ia adalah presiden Iran yang terkenal keras dengan pendiriannya, termasuk tentang tenaga nuklir yang dihebohkan dalam wawancara di atas tadi. Ia juga dikenal amat mencintai bangsa dan budayanya.
Lewat tanyangan wawancara itu, saya jadi sedikit mengenalnya. Ahmadinejad pun tak asal omong alias omong doang yang kini sedang tren menjadi gaya hidup masyarakat kita–cuma jual janji-janji manis tanpa bisa membuktikan apalagi mewujudkannya–. Ia membuktikan bahwa tuduhan AS terhadap Iran yang menggunakan nuklir sebagai senjata perang mereka tidaklah benar dan hanya propaganda semata. Badan intelejen milik AS sendirilah yang membuktikan hal itu.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menyatakan bahwa Iran tidak mempunyai pelanggaran terhadap komitmen program nuklir.

Yang saya ketahui bahwa hingga saat ini Amadinedjad itu jujur dan amanah, yakni apa yang diucapkannya mampu ia buktikan dan mengemban tugas sesuai tuntutan. Dan dari penampilannya ia juga tidak sombong.
Soal sombong, memang sebagai manusia kita seharusnya tidak boleh sombong dalam segala hal. Karena yang boleh sombong hanyalah sang Khalik. Tapi kita sering lupa. Kita sering merasa bahwa kita sudah lebih pintar, lebih kaya, lebih mengetahui, lebih baik, dan lebih segalanya.

Misalnya, baru menjadi ketua RT saja sudah minta dihormati, mahal senyum dan suka menghardik. Kalau bertemu warga, maka wargalah yang harus tunduk dan lebih dulu menyapa dengan hormat. Itu baru jadi RT lo, belum lagi kalau jadi Lurah, jadi Bupati, jadi Gubernur, jadi pejabat, jadi menteri, dan jadi Presiden, maka sombongnya akan lebih dan lebih lagi.
Padahal sebagai manusia, kita sangat terbatas. Dicabut saja secuil nikmat Allah yang diberikan kepada kita, seperti gigi menjadi sakit,  mata menjadi buram, maka kita sudah kelimpungan tidak bisa makan, susah melihat, tidak nyenyak tidur dan sebagainya. Nah, baru segitu aja kok mau sombong sih.  Subhanallah.
Mudah-mudahan saja kita semua tidak pernah menjadi sombong terhadap sesama, apalagi di mata Sang Pencipta. Amin.  n SRI AGUSTINA

Penampilan

INI cerita seorang rekan, sebut saja Lie yang baru mengikuti pendidikan di Ibu Kota selama empat hari.
Selama pendidikan Lie diminta menginap di rumah rekan lamanya yang tergolong mapan. Rekannya ini merupakan bos sebuah perusahaan jasa ternama di Jakarta, tetapi penampilannya sangat sederhana atau boleh dibilang ®MDRV¯low profile®MDNM¯.
Sebagai tuan rumah, Lie diservis ®MDRV¯abis®MDNM¯, mulai dari makan di restoran berkelas hingga ®MDRV¯shooping®MDNM¯ di mal yang biasa dikunjungi para selebritis. Namun rekan Lie ini tetap saja berdandan apa adanya alias sederhana; hanya mengenakan kaus dan celana selutut yang terlihat ®MDRV¯casual®MDNM¯ dan rapih.
Saat di sebuah plaza, rekan Lie ini melongok ke ®MDRV¯counter®MDNM¯ sprei dan perniknya. Lie yang sudah agak itu lelah memilih duduk di depan counter yang kebetulan ada kursi tunggu karena menerima panggilan dari ponselnya. Setelah memberi kode dari Lie, si teman pun melanjutkan melihat dan memilih barang.
Mendapat kedatangan tamu, pramuniaga terlihat sedikit malas-malasan menerimanya. Teman Lie ini melihat ®MDRV¯bed cover®MDNM¯ yang nominalnya tujuh digit. Agaknya ia terpikat sehingga ia amat detail menelitinya, mulai dari bahan hingga jahitan.
Namun, tanpa disangka pramuniaga tadi berkata: “Maaf Ibu, rasanya ibu kurang cocok memakai yang ini, mungkin yang disebelah sana ada yang lebih murah.”
Mendengar perkataan pramuniaga tadi, teman Lie ini tak sedikit terkejut, kemudian tersenyum. Ia menyadari, mungkin karena cara berpakaiannya yang ®MDRV¯casual®MDNM¯ ini tak cocok untuk memilih barang mahal. “Ia saya mau membelinya,” ucapnya.
Aakan tetapi Ia pun mengikuti perintah pramuniaga untuk melongok ke barang yang disebutkannya tadi. Dan ia tetap membeli dua set barang yang pertama kali dilihatnya yang dibayar dengan kartu ®MDRV¯debit®MDNM¯ seharga belasan juta rupiah.
Sang pramuniaga tadi terlihat malu dan berulang kali memohon maaf atas sikap awalnya.
***
Lain lagi dengan cerita Amin. Pemilik penggilingan beras di Lampung Selatan ini mengaku pernah dicuekin saat hendak membeli kendaraan di Bandar Lampung. “Saat saya datang ke ®MDRV¯showroom®MDNM¯ kendaraan, saya pakai sepeda karena cuma berjarak dua kiloaan dari rumah. Sempet kesel juga sih, karena penjaganya kaya mau kaya ®MDRV¯nggak®MDNM¯ ®MDRV¯ngelayanin®MDNM¯, padahal saya mau beli kendaraan ®MDRV¯chas®MDNM¯,” ujarnya.
Setelah ia sedikit ®MDRV¯ngotot®MDNM¯ dan menyodorkan setumpukan uang dalam kantong kresek hitam, sambil berkata keinginannya membeli kendaraan, si penjaga tadi langsung buru-buru melayani. “Mungkin karena tampang saya kumal dan saya pakai sepeda, jadi disangka ®MDRV¯cuman®MDNM¯ lihat-lihat. Padahal yang pakai jas saja belinya ®MDRV¯pake®MDNM¯ ®MDRV¯ngutang®MDNM¯,” ucap Amin kesal.
***
Tanpa disadari, terkadang kita mendapat perlakuan seperti yang dialami rekannya Lie dan Amin, atau malah kita berprilaku seperti sang pramuniaga yang masih terpaku pada penampilan luar walaupun terkadang hal itu semu, bahkan banyak yang menipu. n SRI AGUSTINA

nuansa edisi Sabtu, 22 Maret 2008—kirim

12-ns-22

Makan

DALAM sebuah acara seminar yang saya ikuti, ada pernyataan dari narasumber yang cukup menggelitik buat saya. Si narasumber tersebut berujar demikian: “Setiap mahluk hidup memiliki makanan sendiri yang akan sangat berpengaruh pada prilakunya. Kalau mahluk hidup makan daging, maka tubuhnya akan panas sehingga mudah marah. Kalau ia makan sayuran, maka tubuhnya menjadi terasa dingin sehingga akan lebih tenang.”

Nara sumber tadi juga menyebutkan sumber dari makanan yang dimakan yang implikasinya ke manusia. “Kalau hasilnya dari yang tak baik, maka keluarnya juga demikian. Sedangkan jika didapat dari yang baik, tubuh pun akan memberikan respons positif pula,” ujarnya.
Sejatinya, saya memahami ucapan di atas. Namun, karena penasaran, seusai dari seminar, saya terinspirasi untuk mengamati pola makan dan prilaku.
Kebetulan di rumah, saya memiliki banyak hewan peliharaan yang beragam menu makannya. Saya mengambil dua sempel peliharaan, yakni kelompok pussycat dan bunny, alias kucing dan kelinci.
Setiap hari saya memberi makan kucing dengan menu ikan atau daging-dagingan, sementara untuk kelinci saya beri kangkung dan wortel atau kelompok sayuran.
Kalau kelompok kucing diberi makan dalam satu piring, maka para kucing yang masih satu darah itu (induk dan anak-anaknya) langsung mengerang dengan menunjukan kedua taringnya untuk menguasai piring tersebut. Biasanya yang menang adalah ®MDRV¯pussy®MDNM¯ yang usianya lebih tua. Yang lain akan menyingkir atau menunggu giliran, itupun kalau makanannya tersisa. Ternyata memang kucing memiliki darah panas yang cepat sekali untuk berkelahi, meskipun sesama saudara.
Saat saya memberi seikat kangkung untuk para kelinci, dengan serta merta ketiga kelinci mengambil posisi masing-masing dan makan bersama, tak ada yang tengkar.
Sedangkan soal sumbernya, saya amati kucing liar yang rata-rata berbadan besar dan tubuhnya tak kerawat. Itu karena kucing garong ini makan sembarangan, termasuk mengorek di tempat sampah serta bangkai.
Saya pun puas dengan pengamatan ini. Lalu bagaimana dengan manusia? Mudah-mudahan saja manusia bisa memilih makanan yang baik, termasuk sumber makanannya dari rezeki yang halal agar hasil yang akan keluar pun menjadi lebih berkah lagi, amin. n SRI AGUSTINA

Ya Tuhan berkahi setiap rezeki yang engkau berikan

Yang Penting Ngotot Dulu

“BRAK!…” Itu suara yang berasal dari benda keras berbenturan dengan benda keras lainnya. Dua kendaraan tak sebanding, satunya roda empat dan satu lagi roda dua beradu kambing di jalan raya tikungan Bank Indonesia Telukbetung.
“Woi!” itu kalimat pertama yang terucap, diikuti umpatan yang menyebutkan ‘penghuni kebun bintang’ dari pengendara kendaraan roda dua dengan muka memerah bukan karena darah, tapi karena emosi.
(Barang kali) wajar kalau pengendara itu ®MDRV¯ngeromet®MDNM¯ karena posisinya yang terjatuh di samping kendaraannya.
Sementara pengendara roda empat hanya terbengong, mungkin kaget, tapi mungkin juga takut kena marah ‘Nyonya Besar’ yang ada duduk di samping kirinya.
“Kalau jalan itu lihat-lihat, ayo turun!” lanjut sang pengendara roda dua tadi sambil memindahkan kendaraannya yang terguling.
Sang sopir kendaraan roda empat pun menepi karena posisinya berada di sisi kanan jalan yang menikung.
Suara benturan keras tersebut membuat perhatian sejumlah warga yang ada di sana. Melihat terjadi tabrakan dan korbannya ‘sehat-sehat’ saja, warga hanya menonton dan berteriak: “Pak jangan ®MDRV¯ngotot®MDNM¯, bapak yang verboden,” teriak warga.
Mungkin tersadar, atau barangkali baru ®MDRV¯ngeh®MDNM¯ setelah diberitahu soal posisinya yang salah, pengendara motor langsung mengangkat tangan kepada pengendara roda empat yang belum sempat turun dari kendaraan, lalu tancap gas meneruskan verbooden.
Sopir roda empat pun turun dan mengecek kendaraannya yang lumayan tergores di ®MDRV¯bummper®MDNM¯ bagian depan. Bisa jadi ia bakal ®MDRV¯kena®MDNM¯ ‘ceramah’ dari sang majikan yang menyebutnya teledor dan tidak hati-hati, meskipun posisi berlalu lintas sang sopir ini benar. Boleh jadi juga sang sopir harus mengganti bagian kendaraan yang tergores tersebut. Kasihan!
Melihat peristiwa di atas tadi, ternyata gambaran itu sudah menjadi hal umum di masyarakat kita. Entah posisinya benar atau salah, yang penting ®MDRV¯ngotot®MDNM¯ dulu. Emosi selalu dikedepankan tanpa berpikir panjang dan jernih terlebih dahulu. Atau ini juga bisa dijadikan trik untuk menghindar dari tanggungjawab.
Bayangkan, sudah ‘jantungan’ karena tabrakan, pakai dimarahi duluan oleh sang lawan. Hati sang sopir pun pasti ®MDRV¯nyiut®MDNM¯ dan tak berani melawan. Lain lagi kalau ia punya mental ®MDRV¯ngotot®MDNM¯, pasti akan terjadi perkelahian.
Peraturan lalu lintas di negeri kita pun agak unik bin aneh. Tanpa melihat posisi yang benar atau salah, kalau terjadi kecelakaan antara kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat, ‘terdakwanya’ pasti kendaraan yang lebih besar sekalipun posisinya benar. Pasal yang dikenakan adalah ‘kelalaian.’
Saya teringat suatu peristiwa yang terjadi sekitar 10 tahun lalu, saat seorang teman sedang mengendarai kendaraan roda empat, tiba-tiba dari sebuah sepeda motor yang dikendarai dua anak muda menyeruduk dari arah belakang.
Tanpa melihat posisi benar atau salah, teman tadi digiring ke kantor polisi dan kendaraannya ditahan. Urusannya jadi panjang dan ia dikenakan pasalnya ‘kelalaian.’ Banyak tenaga dan uang yang harus dikeluarkan untuk suatu musibah tadi. Teman tadi berkata “Posisi saya kan tidak salah, saya yang ditabrak kok saya juga yang harus mengganti kerusakan kendaraan yang menabrak saya tadi.”
Teman lain ada yang menyarankan; “Kamu ®MDRV¯nggak ngotot®MDNM¯ sih.” Nah lo! Masak iya sih hukum baru berlaku setelah ®MDRV¯ngotot®MDNM¯??? n SRI AGUSTINA

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: