Memosisikan Perempuan

MAKIN hari, kesadaran masyarakat terhadap sesamanya kian berkurang. Setidaknya itu terlihat di DAMRI. Angkutan rakyat murah-meriah itu selalu padat. Apalagi saat jam-jam sibuk.

Suatu siang, saat saya berada dalam bus yang sesak penumpang, serombongan ibu dari puskesmas di Kupangkota, Telukbetung naik bus yang kata Franki Sahilatua telah miring ke kiri oleh sesaknya penumpang.

Dari rombongan ibu itu ada yang membawa bayi, ada juga yang berperut gendut karena tengah hamil tua. Maklum saja, mereka baru periksa kesehatan di puskesmas. Kebetulan sekali, saya harus bergelantungan di atas bus. Maklum, di jalur itu hanya dilalui bus DAMRI. Lagi pula jalur bus tidak mutar-mutar seperti angkot.

Saat rombongan ibu naik bus, tidak satu pun orang-orang yang mendapatkan kursi mempersilakan para ibu pembawa bayi maupun yang tengah hamil itu duduk. Padahal, mereka yang duduk itu sebagian besar anak muda dan laki-laki. Stiker dalam bus yang mengingatkan orangtua, anak-anak, dan wanita diutamakan, tidak berlaku.

Ketika bus melaju, para ibu masih bergelantungan. Kadang mereka doyong ke samping, ke depan, juga ke belakang seiring kendaraan melaju. “Aduh, kok goyang begini sih jalannya. Nggak ada yang kasih duduk lagi,” kata si ibu hamil sengaja melontarkan sindiran sarkasme itu.

Tapi seolah penumpang yang ada di situ itu budeg–mirip sebutan kucing saya yang bolot alias tuli. Tidak satu pun dari mereka yang mendapatkan kursi mengasihani si ibu ini. Sebetulnya para ibu itu tidak minta dikasihani, cuma mengharap pengertian karena beban yang dibawanya cukup berat yaitu bayi, baik yang sudah nongol, maupun yang masih dalam kandungan.

Saya cuma bisa geleng kepala saja dan hanya bilang, “Pegangan yang kuat Bu, nanti jatuh.”

Dan hingga sampai tujuan, Tanjungkarang, serombongan ibu “merdeka” dengan berdiri berdesakan di antara penumpang bus.

Menyedihkan memang. Sebetulnya kaum perempuan tidak minta diistimewakan, tapi cukup dihargai dan diposisikan sewajarnya.

***

Dalam suatu obrolan membahas gender dengan rekan-rekan, seorang rekan–pria–protes dan mempertanyakan mengapa kaum perempuan yang meminta persamaan hak masih minta prioritas atau keistimewaan terhadap suatu pekerjaan.

“Katanya mau persamaan hak, kok mereka (perempuan) masih mengkhususkan diri sendiri dengan membentuk wadah sendiri seperti PKK, Dharma Wanita, bahkan ada Hari Kartini dan Hari Ibu segala,” ujar teman tadi.

Lagi-lagi, saya cuma tersenyum dan bilang, bagaimana kaum pria mau menyejajarkan perempuan jika hal semelekete itu saja dipermasalahkan? “Wadah itu cuma ingin mengingatkan saja kalau perempuan bisa juga berorganisasi,” ujar saya.

Sebetulnya, esensinya bukan di organisasi, tapi sudahkah kaum perempuan mendapatkan posisi sewajarnya seperti yang tertulis dalam UUD’45, misalnya (dirangkum dari berbagai pasal) setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan berorganisasi yang layak?

Masih banyak lo perempuan digaji lebih rendah dari kaum pria, meskipun posisi dan kedudukannya sama.

Apakah kaum pria bisa menjadikan perempuan sebagai partner (bukan cuma untuk pasangan hidup saja), misalnya, dalam dunia kerja, bisnis, organisasi, dan lainnya? Dan saya sebagai kaum perempuam berharap jawabannya bisa.***

Explore posts in the same categories: Politik

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: