Napak Tilas Nabi di Tanah Haram

MEKAH merupakan kota terowongan batu yang boleh dibilang paling banyak di dunia. Bagaimana tidak, hampir di setiap jalan yang kami lintasi akan bertemu dengan terowongan cukup panjang.

Terowong itu merupakan bukit batu yang digali agar dapat tembus menjadi jalan datar. Buki batu yang terlihat kokoh itu pun dibiarkan tetap tegak, bukan menggerusnya seperti kebanyak bukit di Tanah Air.

Selepas kewajiban ibadah haji tahun lalu, penulis beserta rombongan berkesempatan wisata rohani dengan mengunjungi beberapa tempat ketika Rasulullah saw., berjuang dan menerima wahyu pertama kali, serta ke bukit perjanjian Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa, Jabal Rahma. Berikut napak tilas nabi.

Sambil menunggu giliran ke Madinah untuk melaksanakan sunah arbain, salat 40 waktu di Masjid Nabawi, kami menyempatkan waktu berjiarah ke beberapa bukit bersejarah, tempat Nabi Muhammad saw., berjuang menegakkan ajaran Islam. Masih di bawah bimbingan Ustaz Hafi Suyanto dan Nurkholis, kami mengunjungi Bukit Tsur atau Jabal Tsur.

Dengan bus berkapasitas 50 seat, kami pergi ke Jabal Tsur, sebuah bukit yang terdapat Gua Tsur. Letaknya kira-kira 7 km dari Masjidil Haram ke arah Thaif. Tidak ada satu dedaunan hijau pun menghiasi bukit ini. Kering dipenuhi debu dan pasir.

Sambil menatap bukit, saya mengingat kisah Rasulullah saw., dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua di bukit ini demi menghindari kejaran rombongan orang-orang kafir. Dengan izin Allah, sarang laba-laba yang berada di mulut gua menyelamatkan Rasul dan Abu Bakar, suatu hal yang mustahil terjadi tanpa kekuasaan-Nya.

Rombongan kami tidak diperbolehkan masuk gua itu, sehingga kami hanya bisa memandangi bukit sambil bertafakur sejenak merenungi kejadian Rasulullah tersebut dan mengambil beberapa foto.

Lokasi ini sudah menjadi bagian wisata saat musim Haji, sehingga di sana banyak terdapat pedagang yang menjajakan mainan serta foto Jabal Tsur dan Jabal Nur. Dua lembar foto ukuran 10R dijual seharga 5 riyal. Meskipun saya membawa kamera, sebagai kenang-kenangan foto yang telah diberi penjelasan di dalamnya itu pun saya beli.

Hanya sebentar kami di sini, sekitar 15 menit, lalu melanjutkan perjalanan berikutnya ialah Jabal Nur, sebuah bukit tempat Gua Hira berada.

Jabal Nur terletak di sebelah utara kota Mekah. Sekali lagi kami hanya bisa memandang dari kejauhan dan tentu saja mengabadikan gambar. Subhanallah, memandang gua yang berada di bukit cadas itu membuat saya merinding, terpana, dan kagum yang tiada habisnya dengan awal perjuangan Rasulullah, manusia mulia untuk menerima cahaya kebenaran Ilahi.

Letak gua tersebut, jaraknya dari permukaan laut sekitar 621 m, dari permukaan tanah kira-kira 281 m. Jalan yang menuju ke sana kecil, terjal, apabila tidak hati-hati bisa terperosok jatuh ke dasar.

Bukitnya pun tak kalah kelihatan ganasnya, begitu tandus dan gersang. Membayangkan bahwa dahulu Rasulullah mengasingkan diri dari keramaian selama beberapa waktu di tempat tersebut karena gelisah memikirkan kondisi sosial bangsa Arab pada waktu itu.

Saya juga membayangkan bagaimana Siti Khadijah yang mulia harus naik turun membawakan bekal makanan untuk suaminya tercinta melewati jalan terjal dan sempit seperti itu, suatu perjuangan istri yang ikhlas mendukung perjuangan suami tercinta.

Di gua itulah, Muhammad sang Rasul menerima ayat pertama, iqra, sebuah petunjuk hidup bagi umat manusia. Bukan di tempat yang nyaman seperti yang kita alami sekarang dalam menuntut ilmu ataupun mencari rezeki, tapi di bukit gersang dan tandus, di sebuah gua yang sulit dan bahaya untuk didaki, mulailah suatu awal peradaban mulia yang membawa umat menjadi rahmatan lil’alamin.

Perjuangan Rasul memang tiada terkira, bisa kami bayangkan apabila engkau tidak sanggup memikul perjuangan berat untuk kelahiran Islam, niscaya banyak dari kami kaum perempuan tidak akan dapat bertahan hingga hari ini, niscaya sebagian besar kami sudah terkubur hidup-hidup begitu kami lahir.

Kini, kita dapat menikmati buah manis perjuangan berat Rasul dalam menerima ayat suci Allah dalam bentuk Alquran dengan berbagai cetakan yang indah. Sudah menerima ready-to-read Alquran saja terkadang masih ada rasa malas membaca, menafakur, dan mengaplikasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Sangatlah belum sebanding apa yang sudah kami lakukan dengan perjuangan Rasul demi Islam.

Namun, tetap mengharap syafaat Rasul di hari akhir. Rasanya kok seperti hukum ekonomi kapitalis, dengan sedikit modal hendak memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Masih sedikit berjuang untuk Islam, tapi mengharap syafaat dan surga.

Mereka yang hendak naik ke atas bukit, yakni ke Gua Hira, harus mendaki jalan setapak yang terjal. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke atas bukit, dan pengunjung tak diperbolehkan berlama-lama di atas Gua hira yang dijaga pengawal. Untuk tutun dari bukit pun waktunya hampir sama, jadi total napak tilas ke Jabal Nur bisa memakan waktu dua jam.

Karena kunjungan kami juga dibatasi sampai menjelang zuhur, kami hanya bisa melihat bukit dari kejauan saja.

Beberapa bangunan di pinggir Jabal Nur terlihat sedang dibangun. Mungkin juga ini untuk menunjang wisata rohani di sini.***

Explore posts in the same categories: Traveling

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: