OWK, Ya Rekreasi, Ya Tambah Pengetahuan

Ditulis Maret 10, 2010 oleh ciciaja
Kategori: Traveling

safari malam melihat aummm....

BEREKREASI menikmati keindahan alam sambil mendapat pengetahuan tentang konservasi termasuk satwa dari sang ahli (pakar) sangatlah menyenangkan. Di satu sisi tubuh dan pikiran bisa relaksasi dan menyatu dengan alam, di sisi lain kita mendapat tambahan ilmu.

Hal inilah yang didapat para peserta Orientasi wartawan konservasi (Owaka) yang digelar Forum Komunikasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, tahun 2008 lalu.
Sambil menikmati udara sejuk cenderung ke dingin di bukit Cisarua yang bersebelahan dengan Gunung Gede Pangrango, para peserta Owaka menyatu ke alam dengan tidur di tenda yang telah disediakan panitia. Juga bercengkrama dengan satwa yang ada di sana.
Hari pertama, sambil menunggu peserta dari Bandung, Bogor, Jakarta, dan Lampung, peserta yang sudah lebih dulu datang, bisa menikmati arena permainan out bound yang ada di Rumah Dua, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua bogor. Bisa juga mencoba jalur tracking yang dibuat Foksi sepanjang 7 kiloan meter dengan menuruni lembah, mendaki bukit, melintasi sungai dan sesekali suara burung dan siamang terdengar.
Usai makan malam, baru diadakan pertemuan pengurus Foksi antara lain koordinator Foksi Tony Sumampau, Dr. drh. Ligaya Ita Tumbaleka, tim dokter hewan dari TSI drh. Retno, Endah Budi Utami, penangkar arawan asal Kalimantan Barat, Mingku, dengan seluruh anggota Owaka yang sebagian besar adalah jurnalis dari surat kabar harian, majalah, radio, TV, hingga para penangkar atau pemerhati satwa yang berjumlah sekitar 30-an orang plus panitia.
Kebetulan penulis tiba di lokasi menjelang tengah malam, maklum perjalanan dari Lampung ke Cisarua cukup panjang, terlebih lagi menggunakan angkutan umum yang lebih banyak ‘ngetem-nya.’
Bahasan dalam pertemuan tersebut tentang Owaka sendiri yakni memberikan bekal pengetahuan mengenai konservasi, terutama satwaliar kepada para peserta. Selain itu, mengupas Curik Bali (Jalak Bali) yang merupakan satwa langka di habitatnya, yakni Taman Nasional Bali Barat. Namun, populasi Curik Bali ini justru cukup banyak di tangan para penangkar.
Kelangkaan burung ini karena secara ekonomi nilai jual Curik Bali yang memiliki keindahan bulu putih serta mata birunya cukup mahal yakni mencapai Rp40-an juta per ekor. Akibatnya banyak orang yang memburunya di alam bebas, termasuk di habitatnya.
Namun, para penangkar burung yang tergabung dalam Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) bersama Departemen Kehutanan dan Yokohama Research Center sepakat mengembalikan populasi burung ini di habitatnya dari kepunahan dengan melepas 45 ekor Curik Bali hasil penangkaran pada awal Desember 2007 lalu.
Camilan jagung, kacang dan tales rebus serta wedang jahe, membuat suasana malam yang mulai menyeruak dingin itu menjadi hangat kembali. Tak lupa api unggun kecil dihidupkan untuk sekadar membuat aliran darah terasa lebih lancar.
Penulis beserta rombongan dari Majalah Femina dan Asean Sea serta pemerhati lingkungan yang baru tiba di lokasi pun segera mendapat sajian istimewa mi ala Bang Badil Kompas. Meskipun perut baru diisi sebelum naik ke Rumah Dua, rasanya tak sanggup menolak mi kedelai khas Bang Badil yang ternyata mampu mengoyangkan lidah.
Waktu telah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Rasanya penat juga setelah melakukan perjalanan panjang dari Bandar Lampung ke Cisarua, so waktunya istirahat nih. Benk-benk dan Akew dari FOG segera memberikan sleeping bag dan menunjuk tenda yang bisa diisi. Namun, penulis beserta beberapa teman memilih untuk tidur di balik mimbar Rumah Dua, dimana suara aliran sungai sangat jelas terdengar.
***
Pukul 05.30, Aan dari Gatra Bandung dan Defan dari Tempo Bogor dan Akew sudah membangunkan peserta untuk senam pagi dan tracking. Baru separuh tracking, peserta diminta kembali ke posko kembara buat sarapan pagi dan siap-siap mengikuti diskusi lanjutan Curik Bali di Rumah Dua.
Pukul 8.00, drh. Retno Sudarwati di dampingi Currator Endah Budi Utami memberikan paparan tentang habitat Curik Bali. Bahwa setiap hewan, termasuk Curik Bali, akan berkembang biak dengan pesat jika kesejahteraan mereka tercukupi, yakni meliputi bebas dari rasa tak nyaman, bebas dari haus dan lapar, bebas penyakit, bebas ekspresi tingkah alam.
Partisipasi para peserta Owaka yang baru terlihat dengan diskusi seputar Curik Bali dan satwa lainnya. Di sini pulalah terjawab bahwa pepatah “Sekejam-kejamnya harimau, ia tak memakan anaknya.” Kenyataannya, hampir setiap hewan akan berbuat sadis, termasuk terhadap anaknya jika nyawanya terancam. Harimau, beruang, dan hewan lainnya akan memangsa anaknya sendiri jika hal itu mengancam dirinya. Uh.. egois ya.
Rampung diskusi, pukul 11.00 truk zebra telah siap untuk mengantar kami ke rumah sakit satwa dan ke pengangkaran yang ada di TSI. Semua peserta sibuk mempersiapkan kamera, karena ini merupakn tur melihat satwa dari dekat.
Untuk ke rumah sakit satwa, kami melintasi kadang kuda poni, komunitas Kijang dan sejenisnya, serta kerabat otnta, Lama. Hewan yang satu ini kerap meludah seagai senjata jika kondisinya terancam.
Rupanya Lama sudah tak segan lagi dengan manusia, sehingga ia kerap mendatangi kendaraan yang melintas. “Awas! hewan ini suka meludah lo,” ucap salah seorang peserta. Ludahnya sih tidak berbisa, cuma siapa yang sudi diludahi si Lama.
Karena rombongannya cukup banyak, mak adibagi dua kelompok yakni yang ke rumah sakit hewan dan ke penangkaran satwa.
Jangan membayangkan rumah sakitnya seperti rumah sakit manusia, bagunanya tidaklah terlalu besar, tetapi ada beberapa ruang khusus dan laboratorium. Ada empat dokter hewan yang bertugas di sini diampingi para medis dan kepper.
Di ruang observasi, ada tiga anak orang utan yang msih berusia empat dan lima bulan. Yang dua sehat, dan satu lagi berada dalam inkubator dan diinfus karena terserang diare.
Orangutan ini dengan bayi manusia, manja dan inginnya berada dalam pelukan, bahkan mereka pun harus punya mainan berupa boneka. Jika bonekanya diambil, si anak orangutan ini akan menangis dan mengamuk layaknya anak kecil. Lucu sekali.
Menurut Sri, yang bertugas di Nursery Room, ketiga anak orangutan ini dibawa ke ruang observasi karena induknya tidak mau mengurus dan menyusuinya. “Biasanya ini merupakan anak pertama, sehingga induk tidak mau mengurusi anaknya. Jika dibiarkan dengan induknya, anak orangutan ini kemungkinan akan mati, sehingga dibawa ke ruang observasi,” papar Sri.
Di salah satu kandang, ada seekor harimau Benggala tergolek memprihatinkan dengan bulu-bulu yang rontok. Menurut drh. Retno, harimau ini menderita gangguan pankreas sehingga setiap makanan yang diasup tak bisa terserap sempurna dan ini menyebabkan bulunya rontok.
“Sudah dua bulan ini dirawat, dan berangsur sembuh. Badannya mulai berisi lagi, tinggal pemulihan bulunya saja yang agak lama,” terang Retno.
Ada juga macan tutul usia dua tahun yang mengalami iritasi di ekornya. Meskipun baru dua tahun, si tutul ini terlihat bongsor dan mau bersahabat dengan pengunjung serta bisa foto bersama, tentu saja di dampingi sang ‘kepper.’
Rumah sakit hewan ini sebetulnya tidak terbuka untuk umum, namun buat edukasi dan penelitian relatif terbuka. Kami merupakan yang beruntung diperbolehkan menengok rumah sakit satwa, karena tujuannya untuk edukasi.
Kami juga melihat ke penangkaran harimau, gajah dan Curik Bali. Sejumlah harimau sumatera berada di kandang isolasi. Mereka adalah harimau yang ditangkap dari hutan di sumatera karena banyak ‘mengusik’ warga.
Ada lagi seekor harimau betina usia 12 tahun yang kakinya cacat (buntung telapaknya, red) akibat terjerat di hutan Pekanbaru. Menurut Arsyad, sang ‘kepper,’ akibat kecacatannya itu harimau ini tidak memiliki pasangan. “Kalaupun di satukan dengan harimau yang lain, ia akan dikucilkan, bahkan boleh jadi akan diserang,” terangnya. Duh, kasihan sekali nasib harimau ini.
Tanpa terasa, waktu bergulir cepat. Setelah mendapat banyak ‘pencerahan’ soal satwa, kami pun kembali ke kemah Kembara untuk makan siang dilanjutkan isitrahat sejenak, lalu out bound dan aneka games. Ada yang main flying Fox, meniti tali, hingga meluncur di kolam yang airnya sedingin es. Kami bermain hingga sore.
Jelang makan malam, kami berbincang-bincang dengan Pak Tony dan Bang Badil tentang revisi daftar satwa langka. Berdasarken lokakarya selama dua hari tentang hal tersebut, ternyata diinformasikan bahwa elang Jawa dan Orangutan ternyata populasinya relatif aman, justru yang mengkhawatirkan adalah pesut Mahakam. Mamalia air ini bahkan hampir dilupakan, sementara populasinya makin menciut saja di habitanya.
Pukul 21.00, kami siap-siap untuk Safari Malam, yakni melihat kehidupan dan aktivitas satwa diwaktu malam. Karena malam minggu, ternyata banyak pengnjung yang antre untuk bersafari malam. Waktunya sekitar 45-60 menit dan ada pemandunya. Wah seru!!.
***

Minggu pagi dilanjutkan dengan diskusi tentang unggas; Curik Bali dan walet oleh pakar burung Dr. Masnoerdjito dari LIPI Bogor. Banyak pengetahun yang bisa didapat dari diskusi ini, termasuk perkembangan populasi Curik Bali yang menggembirakan, bahkan kini harga burung berbulu indah ini turun drastis dari Rp40 juta menjadi Rp5 juta/ekor.
Namun, masalah habitat Curik Bali di TNBB masih belum ‘aman’ karena terdapat kawasan hutan produksi di sekitar taman nasional tersebut yang memungkinkan orang untuk keluar-masuk kawasan. “Ini jelas akan mengganggu habitat Curik Bali. Solusinya ya, perlu ketegasan pemerintah,” ucap Masnoerdjito.
Diskusi ini berakhir jelang makan siang. Kami tidak langsung bubar, tetapi membahas tentang Owaka dan agenda Foksi lainnya, sebelum ditutup oleh Kang Defan. Pukul 13.00 para peserta pulang ke ‘habitat’ lainnya. Dan dari sekian banyak peserta, saya merupakan satu-satunya yang harus menyebrangi lautan dengan gelombang lumyan besar untuk pulang ke ‘habitat’ tercinta, Lampung.***sri agustina

PERJALANAN: Sensasi Pantai Tiada Habis

Ditulis Mei 20, 2012 oleh ciciaja
Kategori: Uncategorized

Tags: ,

edisi 20 Mei 2012

Banana Boat

Pantai Mutun, Lampung


PANTAI dan laut seolah tak ada bosannya dijadikan objek untuk rekreasi atau sekadar melepaskan kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Meski telah sudah berkali-kali ke pantai, toh masih saja datang lagi dan lagi untuk liburan, baik bersama teman maupun keluarga.

Apalagi menjelang musim liburan kali ini, berekreasi di pantai atau laut menjadi pilihan. Selain tak terlalu mengeluarkan kocek terlalu besar, di sini juga kita bisa memacu adrenalin buat yang suka hal-hal menantang. Apa saja itu? Ya, aneka permainan di laut sudah banyak tersedia, mulai dari banana boat, kano, jet ski, hingga snorkeling (selam permukaan). Atau sekadar keliling pulau dengan menggunakan perahu sewaan.
Banyak pantai di Lampung yang bisa dijadikan referensi rekreasi, mulai dari pantai Pasir Putih, Pulau Pasir, Mutun, Ringgung, hingga Kelapa Rapat. Semuanya berada di kawasan Teluk Lampung yang terjangkau dari Bandar Lampung. Semua pantai itu umumnya menyediakan sarana rekreasi yang menggugah adrenalin kita.
Di Pantai Mutun, misalnya, selain menikmati pantai dengan pasir dan pemandangan yang masih alami, kita bisa menyeberang ke Pulau Tangkil dan Pulau Kubur—yang berhadapan pantai—cukup dengan menyewa perahu senilai Rp10 ribu/orang pulang-pergi. Biasanya kita bersamaan dengan penumpang lain yang hendak menyerang ke Pulau Tangkil.
Nah, buat yang suka memancing, tersedia perahu sewaan dengan tarif negosiasi. Biasanya untuk seharian. Pemilik perahu akan menunjukkan lokasi yang biasanya banyak berkumpul ikan. Jika kita tak punya peralatan pancing yang memadai, penyewa perahu biasanya menyediakan pancing kotrek dengan mata pancing kecil untuk ikan permukaan. Soal harga pun ramah di kantong, mulai dari Rp10 ribuan. Biasanya ini untuk rekreasi dengan keluarga.
Kalau mau bermain-main di air dengan sedikit menantang, banana boat, kano, dan jet ski bisa menjadi pilihan. Sewanya beragam, tapi rata-rata Rp25 ribu per orang untuk sekali permainan. Bagi yang tak bisa berenang tapi menginginkan sensasi adrenalin, tak perlu khawatir karena tersedia jaket pelampung sehingga tak bakal tenggelam.

Keindahan Bawah Laut
Nah, yang ingin menambah tantangan lagi, bisa melakukan snorkeling. Beberapa pulau di kawasan Teluk Lampung menyimpan keindahan bawah laut yang tak kalah dengan di lokasi-lokasi ternama seperti di Jawa, Bali dan Sulawesi.
Sebut saja di Pulau Tegal, Tanjung Putus, Kelagian, dan Lelangga, kita bisa melihat keindahan bawah laut yang menawan. Kejernihan air, aneka jenis ikan dan terumbu karang warna-warni bisa dinikmati dengan snorkeling.
Seperti yang dilakukan Liberti, salah satu pencinta alam yang gemar melakukan snorkeling. Baru-baru ini ia menikmati sensasi menyelam di perairan Pulau Kelagian.
“Cantik, karena kita bisa melihat ikan buntal, ikan pari, dan aneka terumbu karang,” kata Liberti.
Namun, ada beberapa lokasi yang terumbu karangnya rusak akibat pengeboman atau lainnya. “Sayang, harusnya aset alam ini dijaga dan dilestarikan untuk pariwisata. Lampung kan terkenal dengan wisata alamnya,” kata penyuka kegiatan di laut ini.
Bagi yang tak pandai snorkeling pun masih bisa menikmati keindahan bawah laut dengan menikmatinya dari atas perahu. Ya, di Tanjung Putus, ketenangan dan kejernihan airnya mampu menembus dasar laut. Aneka ikan hias, ubur-ubur, terumbu, hingga bulu babi, terlihat jelas sekali.
Sesekali malah penulis melihat ikan hiu anakkan seukuran paha orang dewasa berputar-putar di bawah. Wow! Meski tak menyelam, adrenalin langsung berpacu. Meskipun demikian, rasanya mata tak mau melepas gerakan ikan hiu berwarna abu-abu itu menari ke sana-kemari yang kemudian menghilang. Ya, sensasi pantai dan laut tak ada habisnya. (SRI AGUSTINA/M-1)

Keindahan Arboretum Sumber Brantas

Ditulis Agustus 20, 2011 oleh ciciaja
Kategori: Uncategorized

Sumber Kali Berantas

JIKA berwisata ke Kota Batu, Malang, Jawa Timur, tujuan kita pasti menikmati suasana sejuk areal perkebunan apel dan aneka tanaman hortikultura. Namun, ada baiknya sekalian kita melongok juga ke Arboretum Sumber Brantas di sebelah timur kaki Gunung Anjasmoro.

Selain lokasinya yang indah dan menentramkan pikiran dan hati, kita juga mendapat pengetahuan lebih soal lingkungan. Pokoknya tak ada ruginya ke sana.

Selepas pertemuan konservasi di Prigen, Jawa Timur, bersama Forum Konservasi Satwaliar (Foksi), beberapa waktu lalu penulis bersama rekan harus menunggu jadwal kereta api tujuan Malang—Jakarta pada sore hari. Ada jeda waktu empat jam untuk menunggu.

Kang Deffan dari Bogor berinisiatif mengontak salah satu rekannya untuk menjadi guide kami menyusuri Malang hingga ke Kota Batu. Alhasil, hanya 30 menit, kami sudah berada di minibus milik papanya Riyoko dan Micuo. Ya, Riyoko dan Micuo adalah balita blasteran Indonesia-Jepang. Wajah mereka imut dan lucu, dan merekalah yang menemani perjalanan kami.

Namun, hanya beberapa rekan saja yang memilih touring ke Batu, yakni penulis, Kang Deffan, Reni, dan Titik. Rekan lainnya memilih ngendon di Malang. Sebetulnya jarak Malang ke Batu tak begitu jauh, cuma ditempuh dengan 30 menit (catatan: lalu lintas lancar). Maklum, Malang termasuk kota yang padat.

Papa Riyoko dan Micuo memang menguasi medan, sebab kami diajak menggunakan jalan tikus untuk sampai ke Batu. Sampai di perbukitan, kami langsung membuka jendela dan mematikan AC untuk menikmati sejuknya udara Batu pada siang hari.

Jalan di Batu termasuk jalan yang tak begitu lebar, kami harus memarkirkan kendaraan hingga mepet jalan saat hendak mengambil foto dan melihat para petani yang memanen apel, wortel, dan kentang. Tak lupa, kami pun membeli apel malang yang baru saja dipetik petani sebagai oleh-oleh.

Dari sana, kami diajak menyusuri perbukitan lagi, menuju Arboretum Sumber Brantas. Letaknya lebih kurang 18 km sebelah utara Batu, tepatnya di Dukuh Sumber Brantas, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Di sinilah lokasi salah satu mata air Kali Brantas yang selanjutnya mengalir melalui Malang, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya, dan bermuara di Selat Madura.

Apa itu arboretum? Dalam bahasa Latin, arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.

Di ketinggian 1.500 dpl, kesejukan dan keindahan langsung terlihat. Kami mampir dulu di kantor untuk meminta izin memasuki arboretum. Di sana ada petugas yang berjaga, Sukarman. Kami pun mengutarakan kedatangan kami dan ngobrol mengenai lokasi ini.

Menurut Suwanda, nama Arboretum Sumber Brantas diberikan Menteri Kehutanan RI (saat itu Ir. Hasrul Harahap) saat berkunjung ke Sumber Brantas pada 1989. Lalu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 631 Tahun 1986, lokasi kawasan mata air Sumber Brantas ditetapkan sebagai daerah suaka alam dalam wilayah tata pengairan Sungai Brantas.

Aliran Kali Brantas sangat bermanfaat bagi penduduk sekitarnya, yakni sebagai pemasok irigasi air pertanian, sarana transportasi, dan berbagai keperluan lain. Hingga kini aliran air Kali Brantas tetap menjadi tumpuan hidup sebagaian besar masyarakat Jatim.

Kami pun diizinkan melongok ke dalam. Sungguh, pemandangan indah yang kami temui. Jalan setapak menuju sumber mata air dipenuhi dengan bunga warna-warni. Persis seperti di taman bunga yang di sisinya ada aliran sungai yang mengalir. Kala itu aliran sungainya kecil sekali.

Usai disuguhi pemandangan indah, sampai juga kami ke lokasi sumber air. Wah, kecil sekali. Penulis sampai tak menduga jika dari mata air inilah sumber air Kali Brantas.

Tetesan air dengan debit 0,5 liter/detik mengucur di lubang sumur yang cuma berdiameter 1 meter. Airnya jernih dan sejuk sekali. Konon, sumber air ini diyakini punya khasiat membuat awet muda. Namun, penulis lebih yakin jika air ini memberikan kesegaran di wajah saat membasuhnya.

Usai dari mata air, kami menelusuri kawasan ini. Wah, banyak sekali pepohonan di areal ini, seperti kayu manis (Cinnanonum burmani), kayu putih (Eucalyptussp), gagar (Fraxinus griffiti), cemara duri (Araucaria sp), cemara gunung (Casuarina junghuhniana), kina (Chinchona sp), cempaka (Michelia champaka), senaon (Albizziafalcata), pinus (Pinus merkusii), klerek (Curciligo sp), beringin (Ficus benjamina), damar (Agathis alba), dan masih banyak lagi.

Kami juga melintasi jembatan kayu, dan saat pulang kami melintasi jalan setapak yang tertutup lumut hijau dengan rimbunan pohon di sisi kiri dan kananya, membentuk lorong. Wow! Indah dan romantis sekali suasananya, seperti dalam dongeng. Rasanya lokasi ini sangat cocok untuk pengambilan foto prawedding deh.

Sayangnya, banyak sampah plastik berserakan. Sampah ini berasal dari pengunjung yang tak patuh dengan ajakan membuang sampah pada tempatnya. Kami pun memunguti sampah-sampah itu. Rasanya ingin berlama-lama di sana, tapi waktu tak memungkinkan lagi, kami pun beranjak pulang. Lain waktuppenulis akan singgah lagi ke sini. (SRI AGUSTINA)

Mabuk Durian

Ditulis Oktober 28, 2010 oleh ciciaja
Kategori: Uncategorized

October 7, 2010

BULAN ini merupakan bulan banjir buah durian di daerahku. Saya lihat di beberapa jalan protokol, banyak sekali penjual dadakan buah berduri dan beraroma menggoda itu.
Hmmm…sungguh, wangi durian itu selalu menggoda hidungku. Ya, meskipun saya ini penggemar durian, tetapi tidak bisa terlalu banyak mengonsumsinya.
Kata orang sih nanti mabuk durian, padahal secara medis saya memiliki mag yang enggak boleh banyak-banyak (sampai lima butir durian misalnya) menikmati buah berdaging lembut ini.
Kemarin malam, teman saya mengajak ke daerah sumber buah durian, Kotaagung, Tanggamus. Ya, durian dari daerah tersebut memang terkenal mantap surantap sehingga tawaran itu langsung saja saya setujui meskipun harus berangkat pagi.
“Oke, tak apalah meski harus berangkat pagi,” kata saya deal. Maklum, pagi adalah waktu berharga buat saya karena pada saat itulah biasanya saya baru nyenyak tidur.
Namun, rekan saya lainnya menimpali. “Eit, mana bisa! besok pagi kan ada rapat bidangmu,” ucapnya. Saya pun teringat. Betul juga, rapat tersebut tak bisa ditinggalkan. Dengan sedikit menawar, saya bilang ke rekan yang mengajak ke “lumbung durian” tadi agar menunda keberangkatan hingga rapat usai, paling tidak selepas makan siang.
Tapi tawaran saya ditolak. Alasannya perjalanan ke Tanggamus itu sekitar dua jam jika kondisi normal. “Kalau jalan rusak begini bisa lebih lama lagi,” papar rekan saya tadi.
Sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewati, tapi saya pun harus mengambil keputusan. Akhirnya, saya mendapatkan jalan keluarnya. Saya membawakan dua buah wadah plastik yang tertutup rapat ke rekan yang pergi ke “lumbung durian” tadi. Sambil berpesan: “Tolong diisi ya dua wadah ini dengan durian.”
Namun rekan tadi menimpali: “Untuk apa wadah itu, kan bagasi masih luas.”
Wah, kalian bisa mabuk durian nanti. Aromanya kan menyengat plus pake AC lagi. Nah kalau diwadah ini kan tertutup rapat, jadi baunya enggak menyebar,” kata saya berargumentasi.
Dengan seenaknya, rekan saya tadi bilang: “Iya deh kalau ingat ya.”
“Huuu…pokoknya isi durian,” pinta saya.
***
Tadi pagi, kami menggelar rapat, sementara rekan saya sudah dalam perjalanan ke lokasi durian.
Yah, sekadar mengingatkan kawan agar tidak lupa untuk mengisi wadah plastik yang sata titipkan semalam dengan durian, lewat pesan pendek.
Tetapi jawabannya singkat saja: “Sudah diisi singkok!”
Saya balik balas: “Enggak mau tau, pokoknya isi durian.”
Pesan pendek saya tadi tidak lagi dibalas, dan saat saya hubungi lewat ponsel ternyata di luar jaringan.
Sampai malam saya masih membayangkan dan menunggu dua wadah plastik berisi durian. Namun, yang ditunggu tak juga muncul-muncul.

Duh, kalau begini sih, meski belum memakannya, saya bisa mabuk durian duluan nih! Mabuk menunggunya.***

‘Klenang-klenong’ DPR

Ditulis Oktober 28, 2010 oleh ciciaja
Kategori: Politik

October 25, 2010

DI tengah hujaman kritik tentang kinerja wakil rakyat oleh banyak kalangan, ternyata para Dewan yang terhomat (DPR) itu malah asyik dan sibuk dengan rencana jalan-jalan berbalut studi banding.
Jika sebelumnya mereka yang terhomat ini “jalan-jalan” ke Negeri Paman Sam untuk belajar tentang agama, kali ini akan klenang-klenong (jalan-jalan, red) ke Yunani. Tujuannya untuk belajar tentang etika.
Waw! Luar biasa! Padahal di negeri ini sedang menumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan termasuk perlunya urun rembuk anggota Dewan.
Rencana studi banding ke Yunani ini pun menuai banyak kecaman. Termasuk di dunia maya.
“Busyet dah, tuh anggota DPR ngapain ya ngabisin uang Rp2,2 miliar untuk studi banding soal etika ke Yunani. Apa enggak mikir ya mereka, kalau rakyatnya masih butuh perhatian dan uang itu bisa untuk kesejahteraan rakyat!”
Itu adalah status yang dibuat seorang rekan di jejaring sosial dunia maya. Dan ternyata responsnya amat banyak.
Saya tersenyum kecut dan ikut mengomentari juga karena geregetan (bukannya lagu Sherina lo). Dan tanpa sengaja, saya iseng membuat semacam polling secara cepat dari respons tentang status tersebut. Hasilnya cukup fantastis, 80% menghujam secara pedas, sisanya mengkritik secara halus dan hanya ada satu respons yang menyambut positif “jalan-jalan” anggota Dewan tersebut dan itu pun dengan catatan.
Memang, polling yang saya lakukan ini jauh dari standar survei. Namun, setidaknya itu bisa menjadi cermin buat wakil rakyat. Karena responden yang memberikan tanggapan pun dari beragam kalangan dan lintas daerah.
Di sinilah harusnya para wakil rakyat menjadi peka terhadap amanah yang diembannya, bukan semata untuk “bersenang-senang” atas nama pekerjaan terlebih lagi biaya perjalanan itu didanai oleh uang rakyat.
Bayangkan saja, jika uang sebesar Rp2,2 miliar yang diperuntukan 8 anggota DPR untuk perjalanan selama kurang lebih sepekan itu dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur daerah. Wasior, misalnya, butuh banyak biaya untuk rehabilitasi pascabanjir bandang.
Dan tak usah jauh-jauhlah, jika dana Rp2,2 miliar itu untuk memperbaiki jalan di trans-Sumatera, minimal dari Bandar Lampung ke Bakauheni saja, pasti lebih bermanfaat karena ini menyangkut kemaslahatan dan hajat hidup banyak orang.
Bayangkan saja, ratusan kendaraan dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya, pasti melintasi jalan tersebut tiap harinya yang kondisinya memprihatinkan. Nah, jika jalan tersebut diperbaiki, arus lalu lintas lebih lancar dan biaya ekonomi tinggi tak lagi dirasakan pengguna jalan.
Hmmm…namun, apakah pemikiran saya ini didengar oleh mereka dan mendapat tanggapan? Wallahualam. Ah, biarlah, yang penting sebagai rakyat saya sudah menyampaikan aspirasi.***
jalan rusak di kotaku. dok.lampungpost jalan rusak di kotaku.

Romantisme Sang Purnama

Ditulis April 8, 2010 oleh ciciaja
Kategori: Traveling

purnamaSUNGGUH purnama itu menyembulkan pesona dan kelembutan yang menembus hingga ke dalam kalbu. Harus aku akui saat memandang purnama itu, hati ku mendesirkan kesejukan dan decak kagum ku terucap berulang kali…subahallah indah nian cahaya purnama ketika awan hitam yang menutupinya tersibak.
Ya Latif, sungguh sempurna ciptaanMu itu. Jika ciptaanMu saja mampu memberikan kelembutan, sungguh Enggkau adalah Mahanya.

Keindahan purnama itu aku saksikan di tepi pantai berpasir putih, dan  hanya sekitar dua derajat di atas perbukitan. Awalnya aku hanya melihat sembulan cahaya di balik gumpala awan yang pekat di atas perbukitan. Di langit bagian barat aku melihat banyak bintang gemintang bertaburan. Apakah gerangan di sana? tanyaku yang malam itu tengah asyik bermain di tepi pantai bersama teman-teman.

Tak lama, awan hitam tersibak dan purnama yang begitu sempurna tersembul mempertontonkan keanggunannya dengan cahaya terang tak menyilaukan mata.
Aku berpekik: “Purnama penuh…purnama penuh, subhanallah indah sekali. Wah lama tak menyaksikan purnama penuh di alam terbuka, di sebuah pulaubernama Kiluan,  di tepi pantai lagi.”
Teman-teman ku hanya menoleh dan meneruskan kegiatan mereka membakar ikan hasil tangkapan pancing kami sore tadi.
Subhanallah, sungguh indahnya…
Aku langsung menyambar kamera milik temanku yang tergeletak, lalu bersimpuh di pasir putih dengan beralasan sebilah bambu.

Rasanya purnama penuh telah menghipnosis ku. Bagaimana tidak, cahayanya jatuh di permukaan air laut yang sedang pasang tapi tenang malam itu. Beberapa kali kujepretkan kamera ke arah purnama. Dasar fotografer amatiran, beberapa hasilnya kurang memuaskan. Pencahayaan kamera yang kurang (non blitz) plus tanpa tripod, mengharuskan aku berdiam menahan napas beberapa waktu sampai lensa kamera terjerap. Huh…tidak mudah ternyata untuk mengabadikan keindahan ciptaan Tuhan ini.

Lama dan lekat-lekat aku pandangi terus purnama itu. Rasanya seperti terpikat oleh romantisme yang dipancarkan purnama. Bisa jadi juga karena aku melihatnya di alam terbuka yang mendukung makin indahnya menikmati sang purnama, meski still alone. If God just beautiful creatures, then You really beautiful God. And i’m sure, someday, I no longer enjoy the romance of this full moon alone. ***

Teluk Kiluan, April 2010

Pemulung Cilik di Depan Sekolah Mewah

Ditulis Maret 12, 2010 oleh ciciaja
Kategori: Uncategorized

Tags: ,

SIANG menjelang sore, seperti biasa, aku mulai mobilitas menuju ke rumah kedua ku, kantor. Sebetulnya bisa dibilang rumah pertama, karena aku lebih banyak menghabiskan waktu ku di kantor. Dan seperti biasa, aku melaluinya dengan kendaraan umum, bus dan angkutan kota (angkot).
Aku menikmati perjalanan sore di mana sang surya masih dengan gagahnya memancaekan fotosfer yang mampu membuat kulit seperti disengat jika berlama-lama di bawahnya. Tak ayal, udara gerah itu mampu menyembulkan aroma tubuh yang weleh-weleh…menggoda hidung untuk sekadar menguceknya atau menutupnya…
Ya, kebetulan di dalam angkot yang aku tumpangi cukup banyak penumpang berseragam sekolah. Mungkin karena aktivitasnya dari pagi dan berada di sela-sela terik matahari, aroma yang tersemul pun jadi nano-nano…agak pusing sih, tapi untungnya kerudung yang aku kenakan sudah aku semprot pewangi pakaian sehingga masih mengimbangi bau dari luar.
Bukan masalah bau badan yang akan aku ceritakan, tetapi saat angkot melintas perlahan di depan sekolah bertaraf internasional, ada pemandangan yang sungguh mengusik pikiran. Ya, di depan sekolah mahal tersebut, ada seorang anak yang tengah mengais plastik bekas air mineral dari tumpukan karung besar yang diletakan di pinggir trotoar tersebut. Sesaat aku berpikir, “wah ironi sekali ya.”
Karena penasaran, akupun menghentikan angkot yang telah melaju sekitar 150-an meter.
Aku berjalan menyusuri trotoar untuk menemui sang anak tadi. Tepat di depan sang anak tadi, aku tetap jalan sekitar 50-an meter untuk menemui tukang es buah. Dua bukung es buah aku pesan, dengan catatan satu tidak pakai es. Jujur saja aku tak terlalu kuat untuk menyedak es, apalagi di siang panas.
Aku kembali berjalan balik ke arah anak tadi, saat di depan anak anak tadi aku menyapanya: “Lagi ngapain dek,” tanyaku.
Dengan agak ragu, sambil terus memisahkan plastik air mineral, anak tadi menyahut: “Ini, misahin platik.”
Aku tersenyum. “Untuk apa plastik itu,” tanyaku. “Untuk dijual,” tukasnya. “Dimana?” desak ku dengan suara lembut. “Tau, bapak yang jual,” ujarnya mulai singut.
Melihat kondisi yang kurang hangat, aku langsung mengeluarkan jurus menawarkan es. “Saya ada es buah, mau nggak? Nih ada dua,” kata ku sambil menyodorkan plastik es ke si anak tadi. Ia sempat menggelang, tapi aku mendesaknya. “Nggak apa-apa, tadi beli dua kok. Nama kamu siapa,” tanya ku.
“Usep,” katanya sambil mengambil bungkusan es dari tanganku. “Diminum, pas lagi panas-panas gini kan jadi seger,” sahut ku.
Si usep yang mengenakan kaus biru bercelana pedek hitam ini langsung menyeruputnya. Sruuut…sruuut…sruuut…. “Usiamu berapa sep, nggak sekolah,” kejarku.
ternyata Usep baru 11 tahun dan duduk di kelas 4 SD. Ia tinggak di kawasan Gunter (gunung Terang).
“Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti,” kilahku. Usep hanya menggelang. “Emangnya mbak ini mau kemana,” Usep malah balik bertanya.
Dengan sedikit berbohong aku bilang, “Lagi nunggu teman, katanya janjiannya di sini sih, di depan sekolah bagus ini,” ucap ku.
:Mau sekolah disini,” tanyaku sambil menunjuk ke gedung sekolah yang tinggi dengan halaman parkir yang luas. Di halaman tersebut banyak kendaraan bagus terparkir, karena sebentar lagi bubaran sekolah.
Usep cuma menggelang. “Sekolahnya bagus, bapak nggak punya uang buat biaya sekolah. Makanya suruh bantu cari uang kalo masih mau sekolah. Saya masih mau sekolah biar bisa kerja di kantoran,” papar Usep.
Aku tercekat sebentar. Namun, tersadarkan saat ponsel saya berbunyi. Ada panggilan dari ‘markas besar’. “Mbak ditunggu meeting di kantor ya nanti jam…., kata usara di telepon tadi. “Ya..ya.., saya sedang di jalan,” jawabku.

Setelah menutup telepon, aku pamitan. “Usep teman saya tidak jadi janjian di sini, ya sudah saya jalan dulu ya, eh iya rumah kamu dimana tadi,” tanyaku. Usep menyebut nama kampung dan arah rumahnya. Aku mengangguk-angguk. “Sampe ketemu lagi sep,” kata ku sambil menyetop angkot warna biru telur asin.

Ah, sebetulnya masih banyak sekali obrolan yang akan aku tanyakan ke Usep, tapi waktuku terbatas. Mungkin lain waktu aku bisa kembali ngobrol dengan si Usep, bocah pemulung yang masih inggin sekolah.
Hmmm, ironi memang, di depan sekolah bertaraf  internasonal yang SPP-nya bisa jutaan rupiah per bulan per anak didik–belum termasuk uang bangunan— ternyata ada pemulung kecil yang mengais rupiah dari memungut sampah plastik untuk tetap melanjutkan sekolahnya yang masih dibangku SD. ****SA